Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia akan memperingati hari
tersebut sebagai hari pahlawan. Upacara kenegaraan dan upacara di
lembaga/ instansi pemerintah dan sebagian sekolah dilaksanakan dengan
khusyu. Momentum hari tersebut diperingati untuk menghormati jasa para
pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan negara dan bangsa. Taman
makam pahlawan di berbagai kota, boleh jadi juga akan ramai dikunjungi
oleh masyarakat, baik yang masih ada hubungan keluarga atau tidak.
Sekadar menaruh karangan bunga, berdoa dan mengenang perjuangan mereka.
Begitulah pemandangan yang kita saksikan seputar hari pahlawan tanggal
10 November.
Meski tidak pernah dinobatkan oleh pemerintah sebagai
pahlawan, meski tidak pernah dipublikasikan oleh media sebagai seorang
pahlawan, meski tidak pernah mendapatkan tanda penghargaan berupa
lencana dan sejenisnya, saya sangat yakin, dan saya juga yakin, Anda
pasti setuju dengan keyakinan saya, bahwa “IBU ADALAH PAHLAWAN” .
Ya,
Ibu, mama, emak, ummi, mami, nyak, atau sebutan apa saja, yang melekat
pada sosok seorang perempuan yang tak pernah capai, tak pernah bosan,
tak pernah berhenti, terus mencurahkan cintanya kepada ‘anak’ buah
hatinya. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, seorang ibu akan
bersungguh-sungguh untuk selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Malam hari dalam kondisi lelah dan ngantuk, seorang ibu rela bangun
untuk mengganti popok bayinya yang basah dengan kencing, rela begadang
semalaman saat balitanya sakit panas dan rewel tidak bisa tidur.
Menginjak anaknya usia 7-8 bulan, dengan keterbatasan tenaga mendampingi
sang buah hati yang mulai aktif merangkak ke sana kemari. Sampai 3
tahun usia anaknya, seorang ibu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan
akan menuntun dan mengajarkan anaknya untuk lancar berbicara, mulai
mengenal huruf-huruf hijaiyah dan huruf latin. Ditambah lagi harus
mengeluarkan tenaga ekstra, karena biasanya anak usia 3 tahun secara
fisik sedang sangat aktif bergerak ke sana kemari, sehingga nyaris rumah
rapi/bersih hanya dalam hitungan menit. Belum lagi seorang ibu harus
membagi waktu dan tenaganya untuk kewajiban lain, sebagai seorang istri
yang berbakti kepada suaminya, sebagai seorang daiyah yang ditunggu
perannya di tengah masyarakat.
Memasuki usia dan dunia sekolah,
perjuangan seorang ibu di medan lain pun telah menanti. Hari-hari
pertama anak memasuki dunia barunya di sekolah, bagi sebagian anak
mungkin tidak menjadi masalah, dalam waktu yang cepat bisa langsung
beradaptasi dengan teman-teman di kelasnya, dan gurunya. Tapi sebagian
anak, masa awal adaptasi menjadi masa yang cukup menegangkan, adakah
dirinya akan selalu aman, jika aku jauh dari ibu. Dalam kondisi anak
seperti ini, tentu bagi ibu butuh kesabaran untuk meyakinkan dan
mendampingi anak, sampai anak siap lepas dari dirinya.
Saya pernah
mendengar curhat dari seorang teman, ketika saya meminta maaf telat
datang mengisi ta’lim karena beberapa saat saya harus menemani anak
saya, awal masuk TK, beberapa hari sebelum akhirnya mau masuk kelas, dia
selalu memegang ujung baju/jilbab, dan bersembunyi di balik badan saya.
Ibu tadi menyampaikan bahwa, kalau saya masih lebih bagus, anaknya
masih TK, dan hanya 2-3 hari. Dia melanjutkan, dulu anak saya, waktu
awal masuk SD, selama 1 bulan, saya masih harus menemani masuk ke dalam
kelas. “Woww…” saya sempat melongo. Dalam hati saya berpikir, kalau
seperti itu sih sudah keterlaluan, tapi tentu saya mengatur kata-kata
yang indah dalam menyampaikannya. Begitulah, di antara dinamika dan
perjuangan seorang ibu.
Ketika anak mulai besar, boleh jadi
perhatian dan capai fisik sudah mulai berkurang dirasakan oleh seorang
ibu, tapi bukan berarti perjuangan selesai. Perjalanan masih panjang.
Ibu akan selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan biaya sekolah
anak-anaknya, ia rela banting tulang bekerja tak kenal lelah, karena
biaya pendidikan yang terus melangit, sementara penghasilan suaminya tak
bisa mengejarnya. Belanja untuk konsumsi harian akan diakali sedemikian
rupa, agar bisa menabung untuk pendidikan anaknya.
Saya jadi
teringat dengan kisah di zaman Rasulullah, saat seorang ibu dengan dua
anaknya telah menerima sedekah sebutir kurma, dibelahlah kurma tersebut
menjadi dua bagian, kemudian diberikan kepada dua anaknya masing-masing
satu bagian, sementara sang ibu tidak mendapatkan secuil pun, tapi dia
bahagia, dia tersenyum, karena dia telah membahagiakan anaknya.
Kebahagiaan anak, akan menjadi kebahagiaan dirinya. Cintanya tak pernah
pupus, kasih sayangnya tak pernah lekang, perjuangannya tak kenal lelah,
doanya tak henti dipanjatkan, demi kebahagiaan dan kesuksesan
anak-anaknya. Menjadi semakin mudah bagi kita untuk memahami, mengapa
Rasul saw menyampaikan kepada kita bahwa “al jannatu tahta aqdamil
ummahat” surga ada di bawah telapak kaki ibu. Semoga kita pandai
mensyukuri, memberikan yang terbaik untuk ibu, meski kita sadar, jasa
ibu tidak akan pernah dapat dibalas oleh anaknya. IBU, kaulah orang
terbaik di dunia. IBU, pahlawan sepanjang masa. Rabbigfirlie
waliiwalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanie shaghiraa. Aamiin…..
Sumber: dakwatuna