News Update :

Terbaru

Berita internasional

Info PKS

Dunia Islam

Tampilkan postingan dengan label suplemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suplemen. Tampilkan semua postingan

07/11/12

Dengki itu Memakan Kebaikan

Assalaamu alaikum warahmatullaahi wabarkatuhu

Mari kita simak dengan iman Kalam Allah ini, "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian lain. Karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanitapun ada bagian dari apa yang mereka usahakan "(QS 4:32).

Rasulullah bersabda, "Dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api yang membakar kayu", Hasud itu tidak senang melihat kelebihan orang lain, lalu diapun berusaha menjatuhkan kehormatan orang itu dengan berbagai cara, dari mengintai keburukannya, mempergunjingnya, menebar fitnah, sampai kedukunpun dilakukan dan bahkan sampai membunuh.

Kisah lucu monyet yang dengki kepada burung gagak. Monyet berusaha meloncati buah anggur, tetapi tidak berhasil, sementara burung gagak dengan mudah meraihnya, dengan kesal monyet keliling hutan sambil berteriak, "anggur itu rasanya pahit dan asem", padahal hanya karena yang diinginkannya tidak tercapai.

Hasud adalah penyakit hati yang membuat tubuhnya juga sakit, berasal dari cinta dunia, sombong merasa dirinya lebih hebat. Allah mengajarkan hamba-hamba-Nya beriman agar terhindar dari penyakit dengki dan selamat dari pendengki dalam surah Al Falaq, "min syarri haasidin idzaa hasad, "Ya Allah, kami mohon perlindunganMU dari sifat hasud dan orang-orang yang hasud... Aamiin". Arifin Ilham
 
sumber: republika

06/11/12

Makna Tauhid dan La Ilaha Illallah

Untuk memahami makna tauhid dan kalimat لا إله إلا الله, dapat dipahami dari beberapa ayat berikut ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Isra’ ayat 57, “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah), dan mereka mengharapkan rahmatNya serta takut akan siksaNya, sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.”

Diterangkan dalam ayat ini sanggahan terhadap orang-orang musyrik pada masa jahiliyah, yang memohon atau berdoa kepada orang-orang yang shalih, oleh karena itu, ayat ini mengandung suatu penjelasan bahwa perbuatan mereka itu adalah syirik besar.

Maksudnya adalah bahwa orang-orang shalih sebelum itu merupakan orang-orang yang mencari jalan kepada Allah dengan cara yang benar dan bertauhid yang benar. Mereka berlomba-lomba dalam kebaikan dan mendekatkan diri pada Allah. Mereka adalah orang-orang shalih yang sangat mengharapkan rahmat Allah dan takut terhadap siksaanNya. Kemudian, datang generasi berikutnya yang menganggap bahwa orang-orang shalih itu mampu memberikan apa yang mereka minta sebagaimana Allah. Mendekatkan diri pada Allah harus dengan orang-orang shalih tersebut.

Dapat diambil kesimpulan dari ayat dalam surat Al Isra’ tersebut bahwa makna tauhid dan syahadat “La Ilaha Illallah” yaitu : meninggalkan apa yang dilakukan oleh orang orang musyrik, seperti menyeru (memohon) kepada orang orang shalih dan meminta bantuan mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Az Zukhruf 26-27, “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya : ‘Sesungguhnya aku membebaskan diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Allah) Dzat yang telah menciptakan aku, karena hanya Dia yang akan menunjukkan (kepada jalan kebenaran).’”

Kata-kata Nabi Ibrahim kepada orang-orang kafir: “Sesungguhnya saya berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (saya hanya menyembah) Dzat yang menciptakanku. ” Di sini beliau mengecualikan Allah dari segala sesembahan.

Pembebasan (dari segala sembahan yang batil) dan pernyataan setia (kepada sembahan yang haq, yaitu : Allah) adalah makna yang sebenarnya dari syahadat “La Ilaha Illallah.”

“Dan Nabi Ibrahim menjadikan kalimat syahadat ini kalimat yang kekal pada keturunannya, agar mereka ini kembali (kepada jalan yang benar).” (QS Az Zukhruf: 28 )

Ayat dalam surat Al Baqarah yang berkenaan dengan orang-orang kafir, yang dikatakan oleh Allah dalam firmanNya, “Dan mereka tidak akan bisa keluar dari neraka.” (QS Al Baqarah)

Disebutkan dalam ayat tersebut, bahwa mereka menyembah tandingan tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecintaan yang besar kepada Allah, meskipun demikian kecintaan mereka ini belum bisa memasukkan mereka kedalam agama Islam.

Lalu bagaimana dengan mereka yang cintanya kepada sesembahan selain Allah itu lebih besar dari cintanya kepada Allah? Lalu bagaimana lagi orang-orang yang cuma hanya mencintai sesembahan selain Allah, dan tidak mencintai Allah?

Dari ayat dalam surat Al Baqarah tersebut diambil kesimpulan bahwa penjelasan makna tauhid dan syahadat “La Ilaha Illallah” yaitu : pemurnian kepada Allah yang diiringi dengan rasa rendah diri dan penghambaan hanya kepadaNya.

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (mereka mempertaruhkan pula) Al Masih putera Maryam, padahal mereka itu tiada lain hanyalah diperintahkan untuk beribadah kepada satu sembahan, tiada sembahan yang haq selain Dia. Maha suci Allah dari perbuatan syirik mereka,” demikian firman Allah dalam surat At Taubah ayat 31.

Diterangkan dalam ayat ini bahwa orang-orang ahli kitab telah menjadikan orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan dijelaskan pula bahwa mereka hanya diperintahkan untuk menyembah kepada satu sesembahan, dan menurut penafsiran yang sebenarnya mereka itu hanya diperintahkan untuk taat kepadanya dalam hal-hal yang tidak bermaksiat kepada Allah, dan tidak berdoa kepadanya.

”Diantara sebagian manusia ada yang menjadikan tuhan-tuhan tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah, 165).

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang mengucapkan لا إله إلا الله, dan mengingkari sesembahan selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, adapun perhitungannya adalah terserah kepada Allah.”
Ini adalah termasuk hal yang penting sekali yang menjelaskan pengertian لا إله إلا الله . Sebab apa yang dijadikan Rasulullah sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekedar mengucapkan kalimat itu dengan lisan atau memahami arti dan lafadznya, atau mengetahui akan kebenarannya, bahkan bukan pula karena tidak meminta kecuali kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagiNya, akan tetapi harus disertai dengan tidak adanya penyembahan kecuai hanya kepadaNya. Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.

Betapa besar dan pentingnya penjelasan makna لا إله إلا الله yang termuat dalam hadits ini, dan betapa jelasnya keterangan yang dikemukakannya, dan kuatnya argumentasi yang diajukan bagi orang-orang yang menentangnya.

Sumber:
1. Kitab Tauhid Alladzi Huwa Haqqullah ‘Alal ‘Ibad
2. fimadani

01/11/12

Tawadhu Teknologi

Suatu hari Einstein sedang duduk di atas sebuah kursi di Kantor Paten Swiss di Bern, yang merupakan sebuah ruang tempatnya bekerja sebagai pegawai paten. Saat itulah sebuah ide cemerlang melintas di benaknya. “Seseorang yang jatuh bebas tidak akan mengetahui berat badannya.”

Artinya, jika saat itu ia beserta seluruh ruangan jatuh dari ketinggian tak terhingga menuju suatu titik tak hingga pula, maka ia akan merasa tidak memiliki bobot, karena seluruh tubuhnya akan melayang, begitu pula kursi, meja, kertas, pulpen gelas. Karena seluruh benda di ruangan itu dalam keadaan jatuh bebas. Kondisinya akan persis seperti seorang astronot dalam sebuah pesawat luar angkasa.

Ide sederhana ini memberi Einstein pemikiran yang mendalam. Emosi liar yang melandanya saat itu mendorongnya ke arah teori gravitasi dan akhirnya membuatnya tak ketulungan menjadi ilmuwan besar. Tak tanggung-tanggung, dua postulat diajukannya dan jadilah Relativitas Einstein suatu argumen yang belum bisa dibantah.

Begitu simpel, begitu remeh, namun itulah yang terjadi. Memang ini hanya ilustrasi yang disederhanakan, namun ada pelajaran besar di sana: Bahwa pemikiran singkat dan sederhana, andai saja diolah dengan lebih dalam akan menjadi suatu hal yang besar. Mungkin itu di kepala Newton, kepala Einstein, kepala Galileo, atau juga di kepala kita? Namun memang kadang itu tak terjadi. Kita lebih memilih berfikir sederhana dan mengungkapkan hal biasa sambil berlindung di balik jubah tawadhu dan rendah hati. Dan akhirnya jadilah kita manusia-manusia sangat sederhana yang benar-benar kelewat tawadhu.

Masalah umat Islam hari ini dalam hal tawadhu‘ teknologi adalah sangat akut. Ia kalah oleh pemikiran-pemikiran besar para pendahulunya, yang dulu menguasai dunia dengan ilmu. Justru sekarang kita yang menjadi badut, atau penonton pasif. Dunia bergejolak dengan keilmuannya yang meramaikan sains & teknologi, dan akhirnya menjadi percaya diri untuk sekadar membuat nuklir dan mengancam Palestina dengan rudal balistik. Ah, betapa tawadhu itu ternyata membawa keburukan. Bagi saudara-saudara kita.

Tapi itulah yang terjadi hari ini. Maka berbicara teknologi, dengan konteks keislaman dan kondisi umat, sesungguhnya adalah bukan bicara sesuatu yang jauh di awang-awang. Namun merupakan langkah nyata perwujudan syariah dan pelembagaan ilmu yang merupakan inti kebudayaan Islam itu sendiri. Merupakan satu langkah yang tak hanya bisa dikatakan nanti saja, namun sesuatu yang harus juga dipersiapkan, direncanakan, dan dibuat menjadi nyata, kapan tepatnya Islam akan menguasai teknologi dunia?

Ini pertanyaan yang harus kita jawab, dengan langkah nyata dan program yang jelas. Bukan dengan janji-janji dan retorika saja. Lebih tepatnya ini menjadi pertanyaan yang harus dijawab oleh orang-orang yang mengaku Islam dan memiliki kemampuan untuk mengejar ketertinggalan teknologi itu. Atau bagi mereka yang bisa dan mampu belajar. Siapa saja. Bukankah memang menuntut ilmu itu wajib dan tuntunan mendasar agama?

Sumber: dakwatuna

Beginilah Jilbab Kita Ukhti!

Lagi-lagi, mata kita semakin akrab dengan propaganda-propaganda amatir di media. Propaganda yang  jikalau aku boleh berucap, propaganda yang salah! Pikiranku cukup terganggu dengan tagline berupa: “yang penting memakai jilbab”.  Begitukah?

Ya, sekarang zaman memang sudah modern. Jilbab dengan berbagai gaya dan warna tidak sulit kita cari di mana pun. Mau model panjang, pashmina, jilbab paris, bahkan ada yang bermodel dan diberi nama jilbab ninja atau jilbab maroko. Subhanallah banyak. Pun juga wanita dan anak-anak remaja yang berjilbab, sudah kian banyak di mall, masjid, kampus, sekolahan, kantor dan di tempat-teman eksklusif juga ada. Sekarang tidak seperti dulu, jilbab kian dimodifikasi oleh pembuat fashion, dipertontonkan modelnya. Sehingga banyak wanita yang tertarik mengenakannya.

Dulu yang berjilbab itu jarang, sedikit, minoritas, bahkan dilarang. Tidak seperti sekarang. Wanita berjilbab semakin mudah kita temukan bukan? Dan dengan berjilbab pula, kecantikannya tidak luntur sama sekali. Malah sekarang makin diperhias dengan jilbab yang dililit ini itu, diberi bros yang besar-besar, diperpendek, diperketat, diganti menjadi bahan yang transparan/tipis guna agar menarik perhatian.

Wanita yang berjilbab sekarang banyak yang menggunakan dalaman ninja, cukup dihias sedikit dengan jilbab paris (yang hanya sebagai penghias tentunya). Tidak rapi padahal. Tapi memang sangat terlihat modis, fashionable, lebih feminim atau apa pun lah namanya. Bahkan aku pernah melihat model tutorial jilbab, di mana jilbab paris itu seakan-akan dibuat seperti rambut, dililit-lilit kemudian diberi pita, atau semacam dikepang. Cantik memang.

Kemudian wanita-wanita yang berjilbab tersebut tidak segan mengenakan kaos ketat atau celana/rok kaos yang juga menjiplak. Ditambah gelang besar. Disempurnakan dengan gelang kaki atau high heels tinggi yang warnanya kontras dengan busananya. Sekali lagi, cantik memang.

Namun, apakah begitu Islam mengajarkan cara berpakaian pada kita? Begitukah yang tertulis di Al-Qur’an kitab kita, Ukhti? Hingga kita lupa, bahwa seharusnya kerudung kita itu menutup hingga ke dada. Bahwa seharusnya, telapak kaki kita juga aurat dan harus juga dibungkus dengan kaos kaki. Bahwa Al-Qur’an mengajarkan untuk menutup aurat kita, bukan cuma membalut aurat. Sadarkah kita bahwa kita telah terhipnotis fashion buatan manusia perusak? Bahwa seharusnya kita tidak mempertontonkan kecantikan dan perhiasan kita untuk yang bukan muhrim.

Sebaiknya kita merenungi mulai dari hal sepele ini, yaitu pakaian kita. Jika hal-hal sepele seperti ini saja pikiran kita tercuci, apalagi hal-hal yang lain. Dengan tagline, “yang penting menutup aurat kan, daripada engga berjilbab sama sekali”. Menutup yang mana jikalau lekukan leher mu masih kelihatan Ukhti? Jikalau kamu tambahkan sesuatu ke dalam jilbab mu sehingga bentuknya seperti punuk unta. Aurat mana yang dirimu tutup ukhti? Jikalau keindahan kakimu masih tersingkap oleh mata-mata nakal. Jikalau dada mu masih menantang. Jikalau bajumu semakin dipendekkan. Aurat mana yang dirimu tutup ukhti?

Semoga kita tetap istiqamah di jalan-Nya. Berpegang teguh dengan Al-Qur’an. Taat akan perintah-perintah-Nya. Hingga hati ini tak ragu lagi berkata, Begini lah Jilbab kita Ukhti! Tertutup, longgar dan panjang. Tidak transparan. Tidak menarik perhatian. Tidak mencetak perhiasan kita, dan akan selalu kita lestarikan demi adik dan anak-anak kita kelak. Aamiin.

Sumber: dakwatuna

31/10/12

Hidayah, Sebuah Nikmat tak Ternilai

Cerita ini mengenai sebuah pengalaman spiritual yang saya alami yang membuat saya hijrah. Hijrah yang atas izin-Nya beranjak dari kejahiliyahan menuju cahaya yang terang. Hijrah yang insya Allah ke arah yang lebih baik…
 
Sebuah pengalaman mengenai perjalanan saya untuk memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Allah, diin-Nya dan Rasul-Nya
Bismillah…

Seperti kebanyakan orang, saya seseorang yang hanya beridentitas muslim dan mungkin jauh dari muslim sesungguhnya…

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya, baik dosa-dosa itu adalah karena kebodohan saya, terlebih lagi dari kesadaran saya sendiri, baik yang diketahui (sadari) maupun yang tidak disadari, Aamiin allahuma aamiin…

Flashback ke 3 tahun belakang, ketika masih menikmati bangku perkuliahan, saya merasa gaya hidup saya masih jauh dari gaya hidup yang islami. Keseharian saya lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang sifatnya duniawi dan waktu dihabiskan oleh kegiatan-kegiatan kampus entah itu kegiatan akademik maupun organisasi… Jarang sekali melakukan kegiatan yang sifatnya ukhrawi, kegiatan yang mengisi kebutuhan ruhiyah. Shalat jarang tepat waktu dan sering kali bolong. Baca Al-Quran? Mungkin hanya dalam kesempatan tertentu saja. Qiyamulail? Jarang sekali mengerjakannya…Saya jarang merasakan kenikmatan dan kekhusyu-an dalam beribadah. Mungkin karena hati ini sudah tertutup tinta-tinta hitam dosa yang saya lakukan. Pengetahuan tentang agama pun rendah. Jujur, saya meningkatkan ibadah saya ketika saya ada maunya kepada Allah, seperti ketika akan menghadapi UTS ataupun UAS. Astaghfirullah…

Jahilnya diri ini pada masa itu…

Tetapi………

Sungguh Allah azza wajalla sang maha pembolak balik hati umatnya…

Selama semester 7-8, saya banyak merenung, introspeksi diri mengenai apa yang sudah saya lakukan selama ini, saya berpikir umur sudah kepala dua tapi kelakuan begini-begini saja, ibadah saya masih jauh dari kata sempurna, belum ada perubahan dari sisi akhlak yang baik, pengetahuan agama pun segitu-gitu saja. Duh malunya…

Saya merindukan diri saya yang dulu.

Saya dibesarkan di keluarga dan lingkungan yang agamis. Ibu saya seorang aktivis dakwah yang cukup rajin menghadiri dan memberikan ceramah di majelis ta’lim. Kedua paman saya seorang ustadz dan tokoh agama dan menjadi guru ngaji anak-anak dan pemuda termasuk saya. Alhamdulillah saya termasuk murid yang menonjol dan berprestasi di antara yang lain. Hafalan dan ngaji saya termasuk paling baik. Keseharian saya sering diisi dengan kegiatan-kegiatan agama.

Yah saya rindu diri saya yang seperti itu…

Ada pergolakan batin yang sangat kuat, hampir di setiap malam saya menangis. Ada yang hilang dari diri saya. Malu dengan diri seperti ini, Mengaku seorang muslim tapi akhlak belum mencerminkan seorang muslim sejati. “Mau sampai kapan hidup saya seperti ini, mau sampai kapan hidup saya tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad? Bagaimana kalau besok saya meninggal dunia?” Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu melintas di pikiran…

Dan saya sadar saya tidak boleh berdiam diri saja dengan kondisi seperti ini.

Ditambah lagi, saya mempunyai seorang sahabat yang sudah bersama saya selama 3 tahun. Kami tinggal satu kos-an selama 3 tahun itu. Sahabat yang sudah saya anggap seperti saudara sendiri. Sahabat yang menjadi salah satu motivasi saya untuk berubah. Dia lebih beruntung dari saya karena dia telah terlebih dahulu mendapatkan hidayah-Nya, melakukan perubahan dan bisa menikmati indahnya Islam dan manisnya iman…

Saya iri pada sahabat saya ini (iri dalam artian positif). Dia memiliki amalan yang lebih baik dari saya. Misalnya, ketika shalat Maghrib, dia berjamaah di masjid, saya shalat di kos-an. Dia tilawah Al-Quran, saya cengengesan sambil twitteran, Dia shalat subuh ke mesjid, saya baru bangun jam 6…

Saya iri dia lebih baik dari saya. Iri karena dia lebih shalih, lebih dekat dengan Allah. Saya malu dengan diri sendiri, mau sampai kapan seperti ini. Saya berpikir, kalau dia saja bisa berubah menjadi lebih baik, kenapa saya tidak?

Saya harus mulai bertobat,

Saya harus memperbaiki diri, bertahap namun pasti…

Saya ingin berubah menjadi seorang muslim sejati,

Saya ingin akhlak saya seperti Nabi Muhammad, saya ingin lebih dekat dengan Allah.

Dan mungkin inilah yang disebut hidayah-Nya, Sebuah cahaya yang indah yang masuk ke dalam hati. . Saya merasa berada dalam sebuah anugerah yang tiada ternilai dari Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Sebuah nikmat yang luar biasa besar. Sebuah cinta yang begitu sulit untuk diungkapkan. Ada semangat yang luar biasa untuk memiliki hubungan yang lebih dekat dengan-Nya. Semangat untuk mendapatkan Cinta dan Ridha-Nya.

Semangat itu dimulai dengan memperbaiki ibadah, saya memperbaiki shalat fardhu saya. Setiap shalat harus tepat waktu dan berjamaah. Kemudian saya mulai membiasakan membaca Al-Quran setiap hari, di manapun dan kapan pun.

Semangat itu makin lama semakin besar, saya tidak puas hanya dengan menjalankan shalat fardhu saja, saya ingin melakukan shalat lain. Maka saya mulai membiasakan untuk melakukan shalat-shalat sunat seperti shalat rawatib, Dhuha, hajat, taubat dan qiyamul lail seperti tahajud dan witir. Semua itu dilakukan secara bertahap dan karena selalu dilakukan setiap hari, lama-lama itu menjadi sebuah kebiasaan, Alhamdulillah…

Ada kebahagiaan yang luar biasa, ada ketenangan hati yang menjelma, ada rasa syukur yang besar ketika saya bisa menjalani perintah-Nya dan itu membuat saya merasa lebih dekat dengan-Nya.

Alhamdulillah…

Suatu ketika sahabat saya ini sadar tentang “perubahan” yang saya lakukan dan tiba-tiba memancing saya dengan sebuah pertanyaan “Fik mau cerita ga?”

Saya bergumam “Heuh tau aja ni orang kalau saya mau cerita”…

Dan akhirnya pada malam itu saya curahkah perasaan saya, saya ceritakan pengalaman spiritual yang saya alami, saya ungkapkan kemauan saya dan alhamdulillah sahabat saya ini menanggapi dengan positif dan menyambut dengan bahagia.

Dia berkata “Selama ini saya diam-diam amati Opik, liat perubahan Opik, dan saya seneng banget ngeliatnya”. Alhamdulillah Fik, Semoga bisa istiqamah. Mari kita melangkah bersama”
Rasa syukur kepada Allah karena telah memberikan sahabat yang bisa mengajak untuk lebih dekat dengan-Nya dan itu merupakan salah satu karunia besar dalam hidup saya. Alhamdulillah Terima kasih sahabatku…

Semenjak itu, persahabatan kami semakin akrab, kami saling mengingatkan ketika salah, saling mengajak kepada kebaikan. Kami sering shalat berjamaah bersama, tilawah Al-Quran bersama, dzikir bersama, mendengarkan siraman rohani bersama. Saya semakin menyayangi sahabat saya ini karena Allah…

Ah indahnya ukhuwah islamiyah itu.

Hari demi hari saya sangat menikmati dengan diri saya yang baru ini, saya merasakan kenikmatan ketika saya beribadah, rasa syukur yang teramat besar kepada Allah karena menjadi hamba-Nya yang terpilih untuk mendapatkan ridha dan cinta-Nya melalui hidayah-Nya yang sangat manis.

Tak berhenti di sana, ketika rasa haus akan pengetahuan agama semakin besar dan di saat saya membutuhkan lingkungan dan teman-teman yang sama seperti saya. Saya dipertemukan oleh sahabat saya ke seseorang yang sudah saya kenal sebelumnya tapi tidak akrab. Senior saya di kampus, seseorang yang saya ketahui merupakan ikhwan yang sangat baik, shalih serta rendah hati dan saya sangat menghormati beliau. Beliau adalah seorang murabbi.

Pada suatu rabu malam. Saya diajak oleh sahabat saya ke sebuah majelis kecil. Waktu itu yang datang hanya bertiga, saya, dia dan sang murabbi. Dalam kesempatan itu saya mencurahkan perasaan saya, menceritakan pengalaman spiritual saya, serta mengungkapkan kemauan saya kepada sang murabbi untuk bersedia membimbing saya dan ikut bergabung dalam majelis kecil ini.

Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, sang murabbi menyambut bahagia dan mengamini niat saya. Saya luar biasa bahagia mendengarnya dan bersyukur kepada Allah atas berkah ini.

Beliau berpesan:

“Berbahagialah Fik dengan hidayah yang Allah berikan kepadamu dan jangan biarkan hidayah itu berlalu darimu. Mintalah selalu kekokohan dan keistiqamahan di atas iman kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa. Teruslah mempelajari agama Allah. Bergaullah dengan orang-orang shalih dan jauhi orang-orang jahat yang dapat merancukan pemahaman agamamu serta membuatmu terpikat dengan dunia. Semua ini sepantasnya Opik lakukan dalam upaya menjaga hidayah yang Allah anugerahkan kepadamu. Jaga nikmat ini”

Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, di atas ketaatan kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin ….

I pray to God with my heart, soul and body, every single day of my life
With every breath I solemnly promise. To try to live my life for you

Oh Allah, you did revive my soul and shone Your light into my heart

So pleasing you is now my only goal. Oh I love you so

Now I know how it’s like to have Your precious love in my life

Now I know how it feels to finally be at peace inside

I wish that everybody knew how amazingly feels to love you

I wish that everyone could see how Your love has set me free

Set me free and made me strong

Oh Allah, I’m forever grateful to You. Whatever I say could never be enough

You gave me strength to overcome my uncertainties and stand firm against all the odds

You are the One who did revive my soul. You shone Your light into my heart

So pleasing you is now my only goal. Oh I love you so
(Maher Zain – I Love You so)

Sumber: dakwatuna

25/10/12

Sungguhkah Aku Tinggalkan Jalan Ini?

Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan ALLAH. (QS Al-Taubah [9]: 41)

Bukan sebuah keluhan saudaraku, namun ini adalah rasa ketika suatu waktu berharap ingin terlepas dari jalan ini.

Sebuah kampus ataupun sekolah yang memiliki agenda dakwah pastinya sudah paham apa itu yang dinamakan ADK (Aktivis Dakwah Kampus). Tetapi, keadaan masing-masing lembaga dakwah, tentunya tidak akan berjalan tanpa ujian.

Minimnya kader, kurangnya komitmen dan lain sebagainya. Namun, sudahkah mengoreksi diri sendiri ataupun keputusan-keputusan dalam dakwah yang sudah dibuat. Bukan malah memudahkan dan memuluskan jalan ini, tetapi malah saling menyakiti sesama saudara muslim.

Prasangka adalah penghancur ukhuwah paling utama. Prasangka adalah bujukan untuk memudahkan langkah duniawi dan pemberat langkah menuju jannah.
Ketika seorang saudari saya mengatakan dengan tegasnya,

“Ukhti, adakah ada yang salah dengan saya? Sehingga ini kesalahan pertama kali namun sudah menerima hujatan”

Seringkali menjadi seorang aktivis yang berjalan di jalanNya mengaburkan luput yang dilakukan oleh diri sendiri. Nista diri ketika hujatan dilimpahkan tidak pada diri sendiri dan mencoba menyalahkan saudara lain. Sudah tereliminasikah ukhuwah dari romansa dakwah?
Kemudian, sakit hati dan kekecewaan yang muncul menjadi bumerang terhadap orang lain ataupun diri sendiri. “Ukhti, saya ingin rehat”.

Beberapa gejolak karena ingin terlepas dari jalan ini lantaran timbul konflik internal dan eksternal dari masing-masing pribadi. Perlu diingat juga, kondisi iman yang naik turun menjadi satu hal yang mendominasi pemikiran negatif. Namun, kondisi eksternal dari pribadi, seperti keadaan organisasi yang di ambang hancur juga menuntut pemikiran seseorang, yang mana, di sisi lain ingin berhenti, tapi juga tidak mau berhenti. Ini semua menjadikan tekanan yang sontak meng”galau”kan seorang ADK.

Kondisi eksternal yang dimaksud adalah keadaan SDM yang dinilai kurang menyamankan, tidak bisa bergerak, bahkan macet ketika diajak berlari. Hal ini perlu dikritisi dari sebuah ADK itu sendiri. Apakah ada yang salah dengan sistem kepemimpinannya? Ataukah pemimpinnya yang menjadikan anggotanya kocar-kacir?

Saudaraku, sebagai sesama muslim yang hakikatnya paham kewajiban dalam Islam, tentunya perasaan lelah dan meninggalkan jalan ini, bisa muncul secara salah pada waktu yang tepat, inilah waktu syaitan yang picik menjauhkan kita dari jalanNya.

Ingatlah, bahwa ALLAH adalah penolong bagi hamba-hambaNya.

Dituturkan dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah bersabda “Sungguh, dalam surga ada seratus derajat yang disediakan Allah untuk orang-orang yang berjuang di Jalan ALLAH. Jarak antara derajat yang satu dengan derajat yang lain laksana jarak antara langit dan bumi.” (Hadits ini dituturkan oleh Al-Bukhari).

Ingatlah, bahwa ALLAH menguji hamba-hambaNya untuk meninggikan derajat, memperbaiki imannya, menguji ketsiqahan kita sebagai seorang jundi.

Sumber:dakwatuna

18/10/12

Curhat Seorang Bujangan, Pada Catatan Hariannya

Hari-hari yang kulalui saat ini adalah hari-hari yang penuh kegersangan, begitu padat dengan kegelisahan, teramat sarat akan kegalauan. Aku merasakan betul betapa jiwa ini perlu berbagi keluh, kisah, suka, duka, berbagi, berbagi, dan berbagi. Kepada siapa aku berbagi? Jika jawabannya kepada Allah, itu mah sudah pasti atuh! Yang hendak aku soroti dalam hal ini, dalam tataran atau dalam posisiku sebagai makhluk yang sudah pasti Allah ciptakan berpasangan, aku merindukan perjumpaan dengannya.

Nah, lho, perjumpaan dengan siapa?

Aku merindukan perjumpaan dengan dia yang menjadi belahan jiwaku. Dia yang akan menyelimutiku dalam ketergigilan. Dia yang akan menjadi penenangku dalam kegelisahan. Dia yang akan memercikiku dalam kemalasan untuk berdiri di sepertiga malam. Dia yang akan mempersembahkan indahnya Ar-Rahman, melantunkan Maryam yang menawan. Dia yang akan selalu tersenyum dalam setiap kelelahanku. Dia yang akan memanjakan diri di hadapanku. Dia yang akan mengajakku bermunajat dan merayakan cinta. Dia yang semakin aku urai, semakin aku merindukannya. Dia yang sama sekali aku tak tahu berasal dari mana, namanya siapa, seperti apa orangnya. Ah, terkadang kerinduan ini begitu membuatku pilu, namun juga terkadang membuatku tersipu. Maha besar Allah yang telah mengaruniakan kerinduan ini.

Ust Salim A Fillah (Baca: Penulis Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim) menyampaikan bahwa orang suci menjaga kesuciannya dengan pernikahan, menjaga pernikahannya dengan kesucian. Aku begitu bersyukur jika aku termasuk ke dalam golongan orang yang seperti itu, yang menjaga kesuciannya dengan pernikahan dan menjaga pernikahannya dengan kesucian. Rasanya saat ini, jauh panggang dari api. Aku ini bukan orang suci. Ingin sekali rasanya, aku – dan aku percaya para pembaca pun punya keinginan yang sama denganku – untuk menjadi orang suci dan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh mereka, orang-orang suci. Orang-orang yang menjaga kesuciannya dengan pernikahan. Menjaga pernikahannya dengan kesucian. Indahnya. Ah, betapa indahnya.

Aku merasakan betul, betapa berat hidup membujang (jadi inget lagunya bang haji ni, kalo di film-film mungkin sudah ada back sound lagu dangdut yang menemaniku menuliskan curhatan ini). Selain pada diaryku, kepada siapa aku boleh bercumbu rayu? Kepada siapa aku boleh bergombal ria? Mengapa dia belum kunjung tiba? Halah, salahnya, mengapa aku begitu suka merangkai kata? Mengapa (ups! hati-hati, pertanyaan “mengapa” bisa menjerumuskanmu pada sikap menyalahkan takdir, lho! kata Aa Gym, Rasul itu jarang sekali atau bahkan tidak pernah samasekali bertanya “mengapa” semasa hidupnya)

Setahuku (yang pengetahuannya begitu terbatas ini) Allah telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan termasuk semua manusia, termasuk aku. Jadi, pasangan adalah sesuatu yang pasti. Sesuatu yang telah dijanjikan Allah. Tidak mungkin, manusia yang terlahir ke dunia ini tidak ada pasangannnya. Sekalipun sampai matinya manusia itu dalam keadaan sendiri, Allah telah menyiapkan pasangannya di kehidupan kedua yang lebih lama. Kira-kira begitulah kata salah seorang Ust. Entah di mana aku menemukannya. Entah di buku atau di ceramah-ceramah.

Terkadang, penantian ini menjadi begitu mengasikkan. Apalagi ketika semangat menulisku muncul seperti saat ini. Dalam kondisi tertentu hal ini menjadi sebuah manfaat yang tidaklah kecil, merangsang eksplorasi keterampilan menulisku. Tetapi juga sebetulnya sekaligus men-teror-ku, tentang sebuah kesiapan untuk menjemput si dia yang telah Allah janjikan untuk menggenapkan dien-ku, mengobati kerinduanku. Mewarnai hari-hariku. Menjadi jalan bertambahnya syukur dan ketersungkuranku dalam sujud panjang dengan mata yang rinai dan mulut yang lirih berucap hamdalah: Alhamdulillah, Alhamdulillahi Robbil Alamin.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. 30: 21)

Sumber:
dakwatuna

12/10/12

Kisah Kasih Sepanjang Galah

Jika kau patuh pada kekasihmu
Lebih patuhlah pada ibumu
- Rhoma Irama -

Pepatah mengatakan, “Kasih Anak Sepanjang Galah, Kasih Ibu Sepanjang Masa”. Kasih sayang anak kepada orang tua sepanjang galah yang bisa diukur, sedang kasih sayang orang tua tak pernah ada habisnya.

Islam memberikan tuntunan yang jelas tentang berbakti kepada orang tua, terutama ibu, ibu, ibu kemudian ayah. Untuk note kali ini, saya kutipkan beberapa hadits dan riwayat berkaitan dengan hal tersebut.

Berbakti kepada orang tua termasuk amal yang paling dicintai Allah,

Dalam hadits lain disebutkan, Abdullah Ibnu Mas’ud RA berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: “Amal perbuatan apakah yang paling disukai Allah?” Rasulullah SAWmenjawab: “Shalat pada waktunya”. Aku bertanya kembali “Kemudian apa lagi? :”Berbaktilah pada kedua orang tua”. Aku bertanya lagi:”Kemudian apa lagi?” Rasulullah SAWmenjawab: “Berjihadlah di jalan Allah”. (HR. Imam Bukhari)

Cara berbakti banyak ragamnya, di antaranya dengan mengasihi dan merawat mereka ketika masih hidup, mendoakan ketika telah meninggal. Bisa juga dengan menyambungkan silaturahim dengan keluarga dan sahabatnya.

Pahala berbakti tidak terputus dengan matinya kedua Orangtua. Dalam suatu hadits dikatakan, “Tatkala kami sedang duduk di hadapan Rasulullah saw. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan Bani Salamah. Lelaki itu bertanya:”Wahai Rasulullah, apakah baktiku terhadap kedua orang tuaku masih tetap ada (pahalanya), jika kulakukan sesuatu sebagai baktiku terhadap mereka berdua sesudah mereka tiada?”. Rasulullah menjawab:”Ya, masih ada, yaitu mendoakan dan memohonkan ampunan untuk mereka, menunaikan pesan-pesannya, dan mengadakan silaturahim kepada orang-orang yang selalu dihubungi oleh kedua orang tuanya, serta memuliakan kawan-kawan dekat mereka. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah)

Dan kisah lainnya yang menceritakan, bahwa pada suatu hari khalifah ‘Umar RA kedatangan seorang lelaki. Lelaki itu berkata kepada sang khalifah: “Sesungguhnya aku mengurusi ibuku sebagaimana ia mengurusiku semasa aku masih kecil. Apakah dengan demikian berarti saya telah menunaikan kewajibanku terhadapnya?”. Khalifah ‘Umar RA menjawab: “Tidak”. Lelaki itu kembali bertanya: “Mengapa demikian”. Khalifah ‘Umar RA menjawab: “Sesungguhnya ibumu mengurusi dirimu dengan harapan agar engkau hidup, sedangkan engkau mengurusi dia dan engkau mengharapkan kematiannya.

Demikianlah Islam memuliakan kedudukan orangtua di hadapan anaknya. ‘Abdullah Ibnu Umar telah menceritakan suatu riwayat bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda: “Keridhaan Rabb terletak pada keridhaan kedua orangtua, dan kemurkaan Rabb terletak pada kemurkaan kedua orangtua”. (HR. Turmudzi).

Mari belajar untuk terus berbakti kepada orang tua.

Sumber: dakwatuna

10/10/12

Khutbah Idul Adha 1433 H: Harapan Nabi Ibrahim, Harapan Kita Semua


Kembali kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt yang telah begitu banyak memberikan kenikmatan kepada kita sehingga kita tidak mampu menghitungnya, karena itu keharusan kita adalah memanfaatkan segala kenikmatan dari Allah swt untuk mengabdi kepada-Nya sebagai manifestasi dari rasa syukur itu, salah satunya adalah ibadah berkorban pada hari raya Idul Adha dan hari tasyrik. Allah swt berfirman:

 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah (QS Al Kautsar [108]:1-2).

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad saw, kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya dan para penerus risalahnya yang terus berjuang untuk tegaknya nilai-nilai Islam di muka bumi ini hingga hari kiamat nanti.

Takbir, tahlil dan tahmid kembali menggema di seluruh muka bumi ini sekaligus menyertai saudara-saudara kita yang datang menunaikan panggilan agung ke tanah suci guna menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima. Bersamaan dengan ibadah mereka di sana,  di sini kita pun melaksanakan ibadah yang terkait dengan ibadah mereka, di sini kita melaksanakan ibadah yang terkait dengan ibadah haji yaitu puasa hari Arafah, pemotongan hewan qurban setelah shalat Idul Adha ini dan menggemakan takbir, tahlil dan tahmid selama hari tasyrik. Apa yang dilakukan itu maksudnya sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah swt.
Ibadah haji dan Qurban tidak bisa dilepaskan dari sejarah kehidupan Nabi Ibrahim as, karenanya sebagai teladan para Nabi, termasuk Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim as harus kita pahami untuk selanjutnya kita teladani dalam kehidupan sekarang dan masa yang akan datang. Pada kesempatan khutbah yang singkat ini, kita bahas Empat Harapan Nabi Ibrahim yang termuat dalam doanya, harapannya menjadi harapan kita semua yang harus diperjuangkan. Pertama, Harapan Atas Dirinya. Nabi Ibrahim as amat berharap agar dirinya terhindar dari kemusyrikan, Menurut Sayyid Quthb dalam tafsirnya: “Doa ini menampakkan adanya kenikmatan lain dari nikmat-nikmat Allah. Yakni nikmat dikeluarkannya hati dari berbagai kegelapan dan kejahiliyahan syirik kepada cahaya beriman, bertauhid kepada Allah swt.”  Karena itu, iman atau tauhid merupakan nikmat terbesar yang Allah swt berikan kepada kita semua sehingga iman merupakan sesuatu yang amat prinsip dalam Islam, Allah swt berfirman menceritakan doa Nabi Ibrahim as:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS Ibrahim [14]:35).

Di samping itu, Nabi Ibrahim as juga ingin memperoleh ilmu dan hikmah, sesuatu yang amat penting agar kehidupan bisa dijalani dengan mudah dan bermakna. Beliau juga meminta agar termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang shalih, ini menunjukkan betapa pentingnya menjadi shalih. Selain itu meminta menjadi buah tutur kata yang baik bagi generasi kemudian sebagai bentuk penghormatan dan upaya meneladani. Puncaknya adalah meminta dimasukkan ke dalam surga hingga tidak terhina dalam kehidupan di akhirat nanti, hal ini tercermin dalam doa beliau:

رَبِّ هَبْ لى حُكْماً وَأَلْحِقْنى‏ بِالصَّالِحينَ. وَاجْعَلْ لى‏ لِسانَ صِدْقٍ فى‏ الآخِرينَ. وَاجْعَلْنى‏ مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعيمِ. وَاغْفِرْ لأَبى‏ إِنَّهُ كانَ مِنَ الضَّالّينَ * وَلا تُخْزِنى يَومَ يُبْعَثُونَ
“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 83– 87).

Dari doa Nabi Ibrahim di atas, jelas sekali betapa pentingnya menjadi shalih sehingga orang sekaliber Nabi Ibrahim masih saja berdoa agar dimasukkan ke dalam kelompok orang yang shalih. Manakala keshalihan sudah dimiliki, cerita orang tentang diri kita bila kita tidak ada adalah kebaikan. Karena itu, harus kita koreksi diri kita, seandainya kita diwafatkan besok oleh Allah swt, kira-kira apa yang orang ceritakan tentang kita.

Hal penting lainnya dari harapan Nabi Ibrahim as adalah agar amal-amalnya diterima oleh Allah swt, termasuk orang yang tunduk dan taubatnya diterima oleh Allah swt, hal ini terdapat dalam doanya:

رَبَّنا تَقَبَّلْ مِنّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ. رَبَّنا وَاجْعَلْنا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنا مَناسِكَنا وَتُبْ عَلَيْنا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوّابُ الرَّحِيمُ
Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. QS. Al-Baqarah [2]: 127 – 129).

Syaikh Ali Ash Shabuni dalam Shafwatut Tafasir menjelaskan bahwa berulang-ulang Nabi Ibrahim dalam doanya menyebut rabbi (ya Tuhanku) agar dikabulkan doanya dan menampakkan kehinaan diri kepada Allah.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Id Yang Dimuliakan Allah swt.

Harapan Kedua adalah Harapan Atas Keluarga, mulai dari orang tua yang beriman dan taat kepada Allah swt, karenanya beliau pun meluruskan orang tuanya sebagaimana firman Allah swt:
وَ إِذْ قالَ إِبْراهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَ تَتَّخِذُ أَصْناماً آلِهَةً إِنِّي أَراكَ وَ قَوْمَكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. (QS An’am [6]:74)

Selain istrinya yang sudah shalihah, beliau juga ingin agar anak-anaknya menjadi anak shalih, taat kepada Allah swt dan orang tuanya dengan karakter akhlak yang mulia, ini merupakan sesuatu yang amat mendasar bagi setiap anak. Karenanya beliau berdoa:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ. فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ. فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS Ash Shaffat [37]:100-102)

Di dalam ayat lain disebutkan bahwa dengan keshalihan diharapkan membuat sang anak selalu mendirikan shalat, hati orang pun suka kepadanya dan pandai bersyukur atas kenikmatan yang diperoleh, hal ini disebutkan dalam doa Nabi Ibrahim as:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim [14]:37)

Hal yang amat penting mengapa Nabi Ibrahim as amat mendambakan memiliki anak bukan semata-mata agar punya anak, tapi bagaimana anak yang shalih itu mau dan mampu melanjutkan estafet perjuangan menegakkan agama Allah swt.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Ketiga yang merupakan harapan Nabi Ibrahim adalah terhadap Masyarakat agar beriman dan taat kepada Allah swt, bahkan tidak hanya pada masanya, tapi juga generasi berikutnya. Dalam rangka itu, sejak muda Nabi Ibrahim telah membuka cakrawala berpikir agar tidak ada kemusyrikan dalam kehidupan masyarakat, Allah swt berfirman:
وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ. فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ. قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ. قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ
Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang lalim”. Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. (QS Al Anbiya [21]:57-60)

Karena itu, dalam doanya Nabi Ibrahim meminta agar Allah swt mengutus lagi Nabi yang menyampaikan dan mengajarkan ayat-ayat Allah swt, hal ini disebutkan dalam firman-Nya:
 رَبَّنا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آياتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الكِتابَ وَالحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS Al Baqarah [2]:129)

Dalam konteks sekarang, masyarakat amat membutuhkan dakwah yang mencerahkan dan memotivasi untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah.

Harapan Keempat dari Nabi Ibrahim as adalah atas Negara dan Bangsa. Beliau ingin agar negara berada dalam keadaan aman dan memperoleh rizki yang cukup dari Allah swt, bahkan Allah swt memberikan kepada semua penduduk meskipun mereka tidak beriman, beliau berdoa:

رَبِّ اجْعَلْ هذا بَلَداً ءامِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَراتِ مَنْ ءامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.”(QS Al Baqarah [2]:126)

Sayyid Quthb dalam Fi Dzilalil Quran menyatakan: “Nikmat keamanan adalah kenikmatan yang menyentuh manusia, memiliki daya tekan yang besar dan perasaannya dan berhubungan pada semangat hidup pada dirinya.”

Apa yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim as ini bila kita ukur dalam konteks negara kita ternyata masih jauh dari harapan, hal ini karena keamanan menjadi sesuatu yang sangat mahal, sementara kesulitan mendapatkan rizki atau makan masih begitu banyak terjadi. Namun kesulitan demi kesulitan masyarakat pada suatu negara dan bangsa ternyata bukan karena Allah tidak menyediakan atau tidak memberikan rizki, tapi karena ketidakadilan dan korupsi yang merajalela. Di sinilah letak pentingnya bagi kita untuk istiqamah atau mempertahankan nilai-nilai kebenaran. Meskipun banyak orang yang korupsi, kita tetap tidak akan terlibat, karena jalur hidup kita adalah jalur yang halal.

Setiap orang bertanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan negara dan bangsa yang baik, namun para pemimpin dan pejabat harus lebih bertanggung jawab lagi. Karena itu, kita amat menyayangkan bila banyak orang mau jadi pejabat tapi tidak mampu mempertanggungjawabkannya, jangankan di hadapan Allah swt, di hadapan masyarakat saja sudah tidak mampu, inilah pemimpin yang amat menyesali jabatan kepemimpinannya, Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلْنِى؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِى ثُمَّ قَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ: إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيْهَا
Abu Dzar RA berkata: Saya bertanya, Ya Rasulullah mengapa engkau tidak memberiku jabatan? Maka Rasulullah menepukkan tangannya pada pundakku, lalu beliau bersabda: Hai Abu Dzar, sungguh kamu ini lemah, sedangkan jabatan adalah amanah, dan jabatan itu akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memperolehnya dengan benar dan melaksanakan kewajibannya dalam jabatannya (HR. Muslim)

Akhirnya, memiliki harapan yang baik tidak cukup pencapaiannya hanya dengan doa, karenanya setiap kita harus berjuang bersama agar kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa berada dalam ridha Allah swt. Akhirnya marilah kita berdoa:

 اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zhalim dan kafir.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ
Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan
.
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا 
أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.

 اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا
Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan mengalami kerugian

 رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

Sumber: dakwatuna

PKS Gunungpati

Berita Nasional

Tokoh

 

© Copyright PKS Gunungpati 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by Pratama Widodo.